Showing posts with label Cagar Budaya. Show all posts
Showing posts with label Cagar Budaya. Show all posts

Candi Badut

Candi Badut terletak di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang; sekitar lima kilometer di sebelah barat pusat kota Malang. Candi ini adalah candi tertua di Jawa Timur berdasarkan prasasti Dinoyo diresmikan pada tanggal 1 Kresnapaksa bulan Margasirsa tahun 682 Çaka (28 November 760 Masehi). Angka tahun dalam prasasti ini dinyatakan dalam bentuk candra sengkala berbunyi Nayana Vasurasa.

Read More

Situs Watu Gong

Salah satu situs purbakala peninggalan Kerajaan Kanjuruhan selain Candi Badut yang masih bisa kita lihat sekarang adalah Situs Watu Gong. Jarak Situs Watu Gong dari jalan raya jurusan Malang-Batu tidak terlalu jauh. Tetapi petunjuk arah ke lokasi tidak ada sehingga pengunjung agak sulit mencarinya. Situs Watu Gong terletak di Jalan Kanjuruhan Gang IV, RT 04 RW 03, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang; sekitar tujuh kilometer di sebelah barat pusat kota Malang.
Read More

Candi Karangbesuki

Tumpukan balok batu dikelilingi struktur pondasi setinggi 30 centimeter teronggok sepi merana di sudut timur laut pemakaman Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Jaraknya sekitar enam kilometer di sebelah barat pusat kota Malang atau sekitar satu kilometer di sebelah utara Candi Badut. Perdu yang mengelilinginya semakin mengisolasi reruntuhan ini dari dunia ramai.
Onggokan bebatuan ini diam, membisu, seolah-olah tidak bertutur dan bersaksi apa-apa.
Read More

Candi Sapto

Candi Sapto merupakan salah satu dari dua situs purbakala yang berada di Kasembon, wilayah paling barat Malang Raya. Candi ini terletak di Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang jaraknya 54 kilometer dari pusat Kota Batu.
Areal cagar budaya Candi Sapto luasnya hampir 500 meter persegi, dikitari oleh perdu sebagai pembatas dengan lingkungan sekelilingnya. Pintu masuk dengan peneduh sederhana ada di bagian barat.

Read More

Punden Mojorejo

Napak tilas menyelusuri khazanah situs purbakala yang terserak di seantero Malang Raya semakin mempertebal kecintaan pada kawasan ini. Malang Raya sudah tercatat dalam sejarah sejak 1250 tahun yang lampau dimulai pada masa kejayaan Kerajaan Kanjuruhan diteruskan dengan Kerajaan Singosari. Keadaan sejumlah situs purbakala beraneka ragam. Beberapa situs purbakala tampak masih relatif utuh dan terawat namun banyak juga yang kini hanya tersisa sebagai reruntuhan dalam kondisi memprihatinkan.
Salah satu cagar budaya di Kota Batu yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas adalah Situs Mojorejo. Masyarakat sekitar menyebut tempat ini Punden Mojorejo. Ada beberapa akses jalan menuju ke tempat ini. Bagi anda yang berangkat dari arah Malang setelah sampai di pertigaan Pendem beloklah ke arah kanan.
Read More

Watu Lumpang

Kota Batu menyimpan banyak peninggalan sejarah masa lampau. Salah satu situs purbakala yang belum banyak dikenal oleh masyarakat adalah Situs Watu Lumpang. Situs ini terletak di Dukuh Sawahan, Desa Beji, Kota Batu. Watu Lumpang berada di bawah rerimbunan rumpun bambu di tepi sungai yang menjadi batas Desa Beji dan Desa Torongrejo.
Read More

Arca Durga Mahisasuramardhini

Sebatang pohon cemara yang telah dimakan usia dengan posisi doyong ke arah utara menaungi sekumpulan benda cagar budaya. Balai menghadap timur membelakangi benda-benda ini. Di depan balai berjajar tiga buah yoni berukuran sedang. Mungkin inilah yang menjadi alasan sehingga peninggalan sejarah bercorak Hindu ini disebut Punden Cemoro Doyong.
Read More

Candi Bocok

Candi Bocok berada di kawasan paling barat Malang Raya; tepatnya terletak di Dukuh Bocok, Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar 55 kilometer di sebelah barat Kota Batu. Candi ini nyaris tidak dikenal di kalangan masyarakat luas, tidak tercatat dalam buku sejarah, juga tidak tercantum dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Malang. Biarpun tidak ada penunjuk arah, untuk mencapai tempat ini sebetulnya sangat mudah. Mengikuti rute bus antar kota jurusan Malang-Kediri, setelah sampai di Desa Kasembon, Kecamatan Kasembon kita temukan pertigaan menuju PLTA Siman & PLTA Mendalan. Jalan beraspal ke arah selatan sejauh 9 kilometer sejurusan dengan kedua PLTA inilah tepatnya jalan menuju Candi Bocok. Panorama di sepanjang jalan begitu indah. Dua kilometer dari pertigaan ini, di Desa Bayem, ada obyek wisata olahraga yang sudah sangat terkenal yaitu Kasembon Rafting. Diselingi dengan perkampungan; terhampar sawah yang subur, ladang tebu, kebun pepaya, dan hutan mahoni. Sungai Harinjing yang meliuk mengalir ke utara di kanan jalan adalah batas alam Malang Raya dengan Kabupaten Kediri.
Read More

Candi Songgoriti

Candi Supo atau yang lebih sering disebut Candi Songgoriti terletak berdekatan dengan Taman Rekreasi Tirta Nirwana, Songgoriti. Lebih tepatnya berada di dalam kompleks Pemandian Air Panas Alami (PAPA) dan Hotel Songgoriti. Namun keberadaan candi ini tidak banyak diketahui oleh para wisatawan dari luar Kota Batu sebab daya tarik utama di area ini adalah Taman Rekreasi Songgoriti dan bukan Candi Songgoriti.
Candi ini ditemukan kali pertama oleh seorang arkeolog Belanda bernama Van I Isseldijk tahun 1799 M, kemudian pelaksanaan renovasinya dilakukan oleh arkeolog Belanda lainnya yaitu Rigg tahun 1849 M dan Brumund pada tahun 1863 M. Tahun 1902 M, Knebel melakukan inventarisasi situs Candi Songgoriti dan dilanjutkan dengan renovasi besar-besaran tahun 1921 M. Renovasi terakhir dilaksanakan pada tahun 1938.
Read More

Candi Kidal

Saat tim pesonamalangraya mendatangi Candi Kidal, kami merasa cukup puas karena kondisi lokasi candi terawat dengan baik. Taman hijau di sekitar candi tertata dengan rapi dan terawat. Disediakan juga toilet bagi para pengunjung. Namun yang begitu mengesankan adalah kesan “Agung” dari candi tersebut masih begitu terasa.  Setelah mengisi buku tamu di pos juru kunci candi, kamipun dengan tidak sabar langsung berjalan mendekati candi yang dari kejauhan nampak indah sekali. Langit kelabu yang sewaktu-waktu dapat mengguyurkan hujan lebat tidak kami hiraukan.
Read More

Candi Jago

Suasana situs Candi Jago saat tim pesonamalangraya berkunjung ke lokasi sangat sepi. Lengang. Tidak ada pengunjung lain selain kami. Namun dari buku tamu yang kami isi, kami tahu bahwa ada seorang turis atau mungkin pemerhati cagar budaya berkebangsaan Prancis yang baru saja meninggalkan tempat ini sekitar dua jam yang lalu.

Read More

Ditemukan Arca Abad ke-10 di Malang

TEMPO.CO, Malang --Sebuah arca berbentuk "singa bersemedi" ditemukan di pelataran rumah warga di Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Malang, Jumat, 27 Juli 2012. Arca diperkirakan dibuat sekitar abad ke-10 atau tahun 941 saka. "Kondisinya utuh," kata koordinator penjaga candi, Hariyoto.

Read More

Prasasti Dinoyo

Prasasti Dinoyo II
Pada jaman penjajahan Belanda di Kelurahan Dinoyo pernah ditemukan sebuah prasasti tentang Kerajaan Kanjuruhan bertarikh 760 Masehi yang berisi tentang kejayaan Kerajaan Kanjuruhan saat dipimpin oleh rajanya Prabu Liswa yang bergelar GAJAYANA dan cerita tentang penggantian patung / arca agistya yang sebelumnya dibuat oleh nenek moyangnya dari kayu dengan batu. Prasasti ini sangat tua karena menurut para ahli sejarah prasasti ini merupakan prasasti dari kerajaan tertua yang ditemukan di Jawa Timur jauh sebelum Singosari dan Majapahit.
Prasasti ini juga sangat unik, karena penggunaan bahasa dan huruf dalam prasasti, yaitu bahasa dan huruf Kawi atau Jawa Kuna bukan huruf dan bahasa Sansekerta yang biasa ditemukan pada sebagian besar prasasti yang ditemukan.
Karena ditemukan di daerah Kelurahan Dinoyo maka disebut dengan Prasasti Dinoyo, saat ini Prasasti Dinoyo disimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Read More

Candi Sumberawan

Jalan menuju Candi Sumberawan
Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 meter; lebar 6,25 meter; dan tinggi 5,23 meter. Candi peninggalan Kerajaan Singhasari ini dibangun pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut di kaki Gunung Arjuno, tepatnya berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Suasana di sekitar candi begitu sejuk, hijau, dan segar karena candi ini dikitari oleh rerimbunan pohon pinus dan terletak di dekat sebuah telaga yang airnya bening dan dingin.

Candi Sumberawan terletak kurang lebih 6 km dari Candi Singasari. Jalan menuju candi ini sudah beraspal meskipun tidak mulus karena di beberapa bagian jalan berlubang dan rusak. Bagi anda yang menggunakan sepeda motor bisa langsung sampai di lokasi candi. Namun bila anda menggunakan mobil, anda harus memarkirnya di tepi jalan besar dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sebab lokasi candi masuk kira-kira sejauh 700 meter dengan lebar jalan sekitar 1 meter. Jalan tanah semi makadam ini diapit oleh sawah dan sungai kecil dari sumber air di dekat candi. Perlu ekstra hati-hati bagi anda yang naik sepeda motor melewati jalan sempit ini. Setelah melewati jalan sangat sempit ini dari kejauhan anda akan melihat rerimbunan pohon pinus yang cukup lebat dan teduh, disitulah Candi Sumberawan berdiri dengan agungnya.

Suasana di sekitar candi
Pintu Masuk • Toilet • Tempat Jualan
Candi Sumberawan ditemukan pada tahun 1904. Kemudian pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala, dan pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Pemugaran ini dipimpin oleh seorang ahli purbakala dari jawatan purbakala Hindia Belanda yaitu Ir. Van Romondt. Nama Sumberawan diduga berasal dari kata sumber dan rawan (telaga). Karena di dekat stupa tersebut banyak didapat sumber yang terkumpul kepada sumber yang paling besar dan membentuk rawan (telaga). Penduduk setempat menyebutnya Candi Rawan (Candi Telaga).
Sebuah stupa pada umumnya mempunyai empat fungsi yaitu :
  • Sebagai penyimpan tulang belulang atau abu jenazah dari Sang Buddha, dan nantinya para Arhat dan para Bhiksu. Stupa yang demikian disebut DHATUGARBHA (DAGOBA).
  • Sebagai  penyimpan   benda-benda  suci vang  berasal dari diri atau  pemilik Sang  Buddha.  Arhat  atau  Bhiksu.  Benda-benda semacam itu disebut Reliq (Misalnya: kuku, rambut, jubah, dan sebagainya).
  • Sebagai tanda peringatan di tempat-tempat terjadinya sesuatu peristiwa penting dalam hidup Sang Buddha.
  • Sebagai lambang suci agama Buddha pada umumnya, dan hal ini bagi penganut-penganut Buddha dianggap sebagai monumen yang bertuah atau berkekuatan gaib. Oleh orang yang saleh stupa seperti itu dianggap sebagai benda guna memusatkan samadi.
Fungsi Stupa Sumberawan.

Sesuai dengan penelitian dan penggalian pada tahun 1935-1937, tidak ditemukan benda apapun di dalam bangunan stupanya maupun di bawah tanah. Di tubuh stupa tidak didapatkan rongga atau ruangan di dalamnya, jadi fungsinya bukan sebagai tempat penyimpanan tulang-belulang dan abu jenazah para Bhiksu atau tidak dapat disebut sebagai Dhatugarbha (Dagoba). Juga tidak dipakai sebagai penyimpanan reliq dari para Arhat maupun Bhiksu.
Dengan demikian fungsi Stupa Sumberawan, jika kita  berorientasi kepada 4 fungsi stupa, tinggal 2 kemungkinan, yaitu:
  1. Sebagai tanda peringatan tempat terjadinya peristiwa penting yang berhubungan dengan Sang Buddha.
  2. Sebagai lambang suci agama Buddha yang dianggap bertuah dan memiliki kekuatan gaib.
Uraian Bangunan Stupa Sumberawan

Bagian-bagian candi <> Batang "hio" dan sesaji
Stupa Sumberawan dapat kita uraikan secara singkat, karena ia termasuk golongan bangunan yang bentuknya sederhana dan dengan demikian mudah dibuat ikhtisarnya, seperti berikut:
  • Di atas tingkat paling bawah (batur) yang empat persegi terdapat kaki yang bentuknya empat persegi pula dengan penampilan pada tiap-tiap sisi. Di atas itu berdirilah stupa yang sebenarnya yang terdiri atas sebuah lapik bujur sangkar, kaki segi delapan dengan bantalan seroja/teratai sebagai lambang kahyangan, dan tubuh yang berbentuk genta. Atasnya (puncaknya) tidak dipasang kembali karena menemui kesulitan pada waktu pemugaran tahun 1937. Diduga bahwa puncak stupa itu adalah sebuah “pucuk”. Bagaimana bentuk pucuk itu tidak diketahui sebab tidak terdapat sisa-sisa di sekitarnya yang berbentuk pucuk semacam payung tertutup.
  • Bangunan suci ini tidak memiliki hiasan atau ukiran. Tidak ada tangga naik atau barang sesuatu yang lain yang menunjukkan bahwa bangunan itu dapat dinaiki. Selanjutnya penyelidikan memberi kepastian bahwa bidang berbentuk genta itu tidak memiliki ruangan di dalamnya untuk menyimpan CARIRA (benda suci maupun apapun juga).
  • Stupa  Sumberawan  tidak  dapat  kita  ketahui  bentuk puncaknya. Apakah berbentuk payung tertutup atau berbentuk bulatan setengah bola. Untuk itu dalam rekonstruksi, di bawah dibuat garis perkiraan rekonstruksi ganda, kira-kira berbentuk payung tertutup atau setengah bola.
  • Pembagian Dhatu pada stupa maupun Candi Borobudur sesungguhnya pada konsep gambaran stupa secara teknis yang mempunyai bentuk dari bawah ke atas: Segi empat, Segi delapan dan Iingkaran. Makna dari tingkatan itu menuju kepada kesempunaan hidup dan bersatu dengan zat yang tanpa awal tanpa akhir (digambarkan dalam bentuk lingkaran)

Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 Masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15  Masehi yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.

Pada saat tim kami mengunjungi Candi ini, ada dua orang berkebangsaan Belanda dan Prancis yang juga berada di lokasi. Mungkin mereka hanya turis asing biasa, namun bisa juga mereka adalah orang-orang yang memiliki minat terhadap kepurbakalaan. Sayang kami tidak sempat berbincang dengan mereka karena pada saat kami datang mereka sudah bersiap untuk pulang.
Untuk keterangan lebih detail tentang stupa/candi Sumberawan, anda bisa membaca tulisan ringkas karya Bapak Suwardono DI SINI.
Bagi anda yang memiliki rencana untuk mengunjungi Candi Singasari atau Patung Dwarapala yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari Candi Singasari, alangkah baiknya jika anda juga mengunjungi Candi Sumberawan untuk melengkapi perjalanan anda ke Singasari.
***
Read More

Petirtaan Watugede; Pemandian untuk Putri-putri Raja Singasari

Petirtaan Watugede
Pemandian Raja dan putri-putri Raja pada zaman Kerajaan Singasari ini, ditemukan oleh seorang arkeolog Belanda pada tahun 1925. Tempat yang disebut dengan Petirtaan Watugede ini terletak di Desa Watugede, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang. Lokasi petirtaan ini cukup dekat dengan jalan antar kota Malang-Surabaya, dan bisa dicapai baik dengan mobil maupun sepeda motor. Tempatnya sangat teduh, rindang, asri, dan sejuk. Sangat nyaman dijadikan tempat untuk melepaskan penat dari terik matahari di siang hari.

Petirtaan Watugede adalah sebuah pemandian kuno berbentuk empat persegi panjang dengan batu-batu bata kuno berukuran besar-besar yang dapat dikatakan masih utuh dan berfungsi sebagai dinding kolam. Sisa keindahan dari susunan batu bata ini masih dapat kita lihat meski banyak juga yang sudah berantakan. Di tepi petirtaan ini terdapat patung-patung kecil yang terus-menerus memancarkan air dari sumber dengan debit air yang cukup besar. Air kolam di pemandian kuno ini dari jauh tampak berwarna kehijau-hijauan.
Sumur & Tempat Sesaji

Di pojok kolam terdapat sebuah sumur dan tempat untuk meletakkan sesaji. Kolam ini juga memiliki sebuah tangga dari batu untuk masuk ke dalam kolam. Sebagian tangga batu tersebut masih utuh, namun ada beberapa bagian yang sudah diganti dengan tangga dari semen.
Yang menarik dari tangga batu ini adalah, bahwa salah satu dari batu tersebut permukaannya berlubang-lubang dengan jarak beraturan. Batu ini disebut ”Watu Dakon” (batu dengan lubang-lubang dengan jarak tertentu seperti dalam permainan tradisional yang disebut dakon). Menurut juru kunci tempat ini yaitu Bapak Agus, Watu Dakon tersebut berfungsi sebagai penunjuk waktu untuk putri-putri Raja yang sedang mandi di tempat tersebut.

Watu Dakon

Tak jauh dari Watu Dakon ini, tepatnya di dekat sumur, juga terdapat Batu Gores berjumlah tiga buah; menurut Pak Agus fungsi dari Batu Gores adalah untuk mengasah pedang yang akan digunakan untuk melaksanakan hukuman pancung bagi lelaki mana saja yang nekad menyusup ke dalam pemandian ini sebab hanya putri Raja beserta dayang-dayang wanitanya saja boleh memasuki area pemandian ini. Masih menurut Pak Agus, di dekat sumur dulu juga terdapat gua yang berfungsi untuk tempat berlindung bagi putri-putri Raja jika sewaktu-waktu terjadi bahaya, namun gua ini sekarang sudah ditutup. Batu Gores seperti ini juga dapat kita jumpai di Museum Mpu Purwa di Kota Malang.
Batu Gores di Watugede • Batu Gores di Museum Mpu Purwa

Pengunjung yang datang ke tempat ini tentu saja kebanyakan adalah mereka yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang peninggalan-peninggalan kuno. Namun sebenarnya bagi anda yang hanya sekedar ingin menikmati udara sejuk di tengah panasnya kota, tempat ini bisa dijadikan alternatif untuk menikmati segarnya udara di bawah pepohonan. Secara keseluruhan pemandian ini juga cukup terawat meskipun masih ada satu dua kekurangan namun masih dalam batas wajar.
Petirtaan Watugede yang konon juga pernah digunakan oleh Ken Dedes ini bagaimanapun juga merupakan kekayaan bangsa untuk lebih mengenal sejarah dan budaya para nenek moyang dalam pembentukan karakter dan cikal bakal bangsa Indonesia.

Sumber: http://pesonamalangraya.com
Read More

Candi Telih, Tajuk Padang Ilalang Punggung Gunung Arjuno

Di antara semua candi yang tersebar di kawasan Malang Raya, Candi Telih adalah satu-satunya candi yang paling tidak populer. Candi peninggalan Kerajaan Singosari ini terpencil di tengah padang ilalang punggung timur Gunung Arjuno. Secara administratif kawasan ini masuk wilayah Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari. Ada beberapa jalur perjalanan menuju Candi Telih, yaitu melalui Kecamatan Singosari atau melewati Kecamatan Karangploso.

Tim Pesona Malang Raya memilih lewat Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso. Jalan membujur dari selatan ke utara di Desa Tawangargo beraspal, diteruskan dengan jalan makadam melintang ke timur melintasi lokasi Wisata Ritual Gunung Mujur menuju Kampung Bontoro, Desa Ngenep dan Dukuh Sumbul, Desa Gunungrejo. Pada musim kemarau jalan berbatu ini bisa dilalui kendaraan beroda dua dan kendaraan beroda empat. Tetapi pada musim penghujan di sepanjang jalan dipenuhi kubangan lumpur.
Camping Ground Tawangargo • Jalan menuju Candi Telih saat musim hujan

Pada hari libur dan hari Minggu rute ini menjadi jalur favorit trail adventure. Setelah tiba di Gunung Mujur, kami menitipkan kendaraan pada satu-satunya warung di situ dan memilih melanjutkan perjalanan ke timur dengan berjalan kaki. Jembatan berumur setengah abad yang oleh masyarakat sekitar disebut “Buk Ken Angrok” kami lewati. Tidak berapa lama sampailah Tim Pesona Malang Raya di persimpangan jalan yang ditandai sebuah tugu berbentuk limas terpancung. Penduduk setempat menyebut tugu ini “Tugu Ken Dedes”. Bangunan ini dindingnya dihiasi ornamen bunga, angka tahun 1958, dan bertuliskan aksara Jawa “Munggah Gapura Ngesdha Janma”.
Buk Ken Angrok • Tugu Ken Dedes











Jalur ke arah utara sepanjang sekitar lima kilometer dimulai dari tugu ini merupakan ruas perjalanan cukup menantang yang menghantar kita menuju Candi Telih. Di kejauhan terlihat Bukit Pusung Lading diselimuti permadani ilalang.
Bukit Pusung Lading

Hamparan hutan pinus diselingi ladang tomat dan cabai menemani perjalanan kita di awal etape ini. Di beberapa bagian dihiasi pula oleh palem hutan, pokok-pokok pakis dan deretan pohon puspo dengan bunganya yang putih bermekaran. Pada separuh etape yang terakhir kita memintasi padang ilalang dengan jalan setapak yang cukup terjal. Tanjakan-tanjakan di beberapa bagian memaksa Tim Pesona Malang Raya untuk berhenti dan beristirahat sejenak. Setelah memakan waktu sekitar dua setengah jam kami sampai di tikungan tajam mendaki berujung di dataran yang dipenuhi perdu pohon akasia.
Di dataran menghadap  timur di tengah padang ilalang ini, Candi Telih terasing membisu hampir delapan abad lamanya. Sejauh mata memandang sampai dengan kaki langit terlihat hamparan kawasan Singosari dan tlatah Malang Raya.

Tempat ini sama sekali tidak berpagar, luasnya kurang dari 400 meter persegi. Tidak ada satupun papan penanda yang menunjukkan lokasi ini sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi. Kami masuk dari akses jalan yang berada di sudut barat daya, sedangkan di sudut timur laut merupakan jalan masuk dari arah Wonokoyo, Kecamatan Singosari. Di sebelah selatan berdiri sebuah gubuk dengan dinding dan atap berbahan jerami yang tampaknya belum terlalu lama dibangun.
Kondisi candi pertama













Dua bangunan candi menghadap ke timur dengan posisi segaris berada di tengah pelataran. Bangunan di depan tingginya dua meter, merupakan kumpulan fragmen candi yang ditumpuk asal-asalan. Di belakangnya terdapat undak-undakan dari batu alam menuju lokasi yang lebih tinggi, tempat bangunan candi kedua berdiri. Tinggi bangunan candi kedua 186 centimeter, panjang 250 centimeter, dan lebarnya 110 centimeter. Badan candi dalam kondisi masih utuh, tetapi puncaknya tinggal separuh. Dinding belakang bangunan candi rata tanpa ornamen.
Candi kedua; Tampak depan • Tampak belakang

Mengamati wujudnya, mungkin sekali candi ini dibangun sebagai altar persembahyangan. Tidak terdapat arca satupun di lokasi ini. Tetapi bagaimanapun juga keadaannya kini, perjalanan ke Candi Telih menyempurnakan imajinasi kita pada kejayaan Kerajaan Singosari di masa silam dan menikmatinya merupakan pengalaman spiritual penuh makna.

Sumber: http://pesonamalangraya.com
Read More